Header Ads

Gas Serin : Senjata Biokimia yang Mampu Merusak Sistem Saraf

Berbeda dengan senjata nuklir, senjata biologis punya banyak jenis. Walaupun senjata kimia juga mempunyai banyak jenis (seperti gas sarin, gas VX, sianida dan sebagainya), karena senjata biologis menggunakan agen hayati seperti virus dan bakteri, jumlahnya cenderung bertambah dengan munculnya berbagai macam penyakit infeksi fatal baru seperti virus Ebola, virus Lassa dan lain-lain.



Sarin atau GB, adalah senyawa organoposphorous dengan formula (CH3)2CHO]CH3P(O)F. Ia adalah cairan yang tidak berwarna dan tidak berbau yang digunakan sebagai senjata kimia dengan efek ekstrim yang berpotensi sebagai perusak sistem saraf (nerve agent). Gas Sarin ini telah diklasifikasi sebagai “Senjata Pembunuh Massal” pada Resolusi PBB 687. Produksi dan penyimpanan Gas Sarin ini telah dilarang oleh Chemical Conventions Weapon pada tahun 1993 yang mana ia diklasifikaskan kepada zat kimia level 1.

Mekanisme kerja gas Sarin ini mirip seperti insektisida yang umum digunakan, seperti Malathion. Dalam term aktivitas biologis, ia mirip insektisida karbamat seperti Sevin dan obat-obatan pyridostigmine, neostigmin, dan physostigmine. Layaknya perusak sistem saraf lainnya, Sarin menyerang sistem saraf.

Sarin adalah zat yang memiliki volatilitas tinggi (cairan yang dapat dengan mudah berubah menjadi gas), sangat mirip dengan gas saraf lainnya. Menghirupnya sangat berbahaya, dan bahkan uapnya dapat dengan mudah menembus kulit. Pakaian seseorang dapat melepaskan sarin sekitar 30 menit setelah melakukan kontak dengan sarin yang mana ia dapat terpapar pada orang lain. Orang yang menghirup dosis yang tidak berbahaya, akan tetapi ia tidak disegerakan mendapat pengobatan yang cukup, dapat menderita kerusakan saraf permanen.

Bahkan pada konsentrasi rendah pun, Sarin dapat berakibat fatal, kematian akan terjadi satu menit setelah menghirup satu dosis yang berbahaya kecuali antidote seperti atropine dan pralidoxime cepat diberikan kepada korban. Sarin diperkirakan 500 kali lebih beracun daripada sianida. Gejala awal dari terkena sarin adalah hidung meler, sesak di dada dan penyempitan pupil mata. Segera setelah itu, korban memiliki kesulitan bernapas dan mengalami mual dan terus menerus keluar air liur. Sehingga korban terus kehilangan kontrol fungsi tubuh, para korban muntah, buang air besar dan buang air kecil. Fase ini diikuti oleh pengejangan dan sentak-menyentak. Pada akhirnya, korban menjadi koma dan mati lemas dalam serangkaian kejang-kejang hebat.

Gas sarin diketemukan oleh Dr. Gerhard Schrader dari Jerman dan dikembangkan sebagai pestisida di Jerman pada tahun 1938. Tetapi selama Perang Dunia II, ilmuwan perang Nazi menyadari bahwa mereka bisa menggunakan bahan kimia ini menjadi senjata kimia. Namun, karena pertimbangan efek yang sangat bahaya, zat ini tidak digunakan dalam PD II itu.

Sarin terkenal setelah digunakan oleh rezim Saddam Hussein kepada ribuan warga Kurdi di Kota Irak utara, Halabja pada tahun 1988. Diperkirakan 5.000 orang tewas.

Pada April 1988, Irak juga menggunakan gas ini untuk melawan tentara Iran. Gas inilah yang membantu Irak mengambil alih Semenanjung al-Faw.

Pada 1994, sebuah sekte di Jepang, Aum Shinrikyo menggunakan senyawa ini di Matsumoto, Nagano. Menyebabkan kematian 8 orang dan melukai 200 lainnya. Sekte ini kembali menggunakan gas ini di Tokyo Metro pada 1995 dan menewaskan 13 orang.

Sumber : Vivaforum (13/05/2014)

2 komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.