Header Ads

Perkembangan Nuklir di Indonesia

Pengembangan energi nuklir di Indonesia kearah yang lebih maju seperti negara-negara maju lainnya masih menjadi pro dan kontra di kalangan masyarakat. 


Sesungguhnya, nuklir tak asing lagi bagi para ilmuwan di Indonesia. Sejak satu dekade pasca Indonesia merdeka, yakni pada 1954 Indonesia sudah mencetuskan ide pengembangan dan pemanfaatan energi nuklir demi terciptanya sumber energi Indonesia yang ramah lingkungan dan bisa diperbarui. Secara arti, Nuklir adalah teknologi tinggi yang lahir dari reaksi inti atom yang bisa dimanfaatkan dalam berbagai hal. Sumber energi nuklir punya kekuatan yang sangat besar, dan bisa dimanfaatkan sebagai sumber energi besar untuk menghidupi kehidupan manusia.

Di Indonesia, Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) adalah lembaga yang berperan aktif untuk riset penelitian, pengembangan, dan pemanfaatan energi nuklir di Indonesia.

Dikutip dari laman Tempo, selama sekian dekade mengembangkan dan meneliti energi nuklir di Indonesia lewat peneliti-peneliti hebat asli dalam negeri, BATAN telah mencapai berbagai hasil di bermacam bidang, seperti pangan, kesehatan dan obat-obatan, energi, industri, sumber daya alam, dan lingkungan.

Lalu untuk urusan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir, Indonesia pun ternyata menjadi yang paling siap mengaplikasikannya di Asia Tenggara. Pasalnya sudah lebih dari 30 tahun BATAN menyiapkan dan meneliti apapun risiko serta implikasi positif penggunaan energi nuklir sebagai pembangkit listrik.

Sedangkan dalam urusan pertanian, penggunaan energi nuklir pun sudah mulai diterapkan kepada para petani-petani lokal di Indonesia. Pusat Aplikasi Isotop dan Radiasi (PAIR) BATAN dengan teknik pemuliaan mutasi radiasi mampu menciptakan benih unggul. Lewat benih unggulan yang direkayasa lewat aplikasi nuklir ini, Varietas pagi yang memiliki julukan Sidenuk hasil riset BATAN bisa panen sebanyak 9,1 ton gabah kering giling per hektare sawah. Angka ini jelas jauh lebih banyak dibanding varietas pagi lainnya.

Jika dijabarkan tentu sudah banyak sekali pengembangan aplikasi teknologi nuklir yang dikembangkan BATAN untuk kehidupan masyarakat Indonesia. Namun memang diakui, bahwa masih banyak juga masyarakat Indonesia yang hanya menganggap bahwa energi nuklir tidak aman dan rawan kebocoran sehingga menyebabkan dampak negatif lainnya. Alasan inilah yang menjadi penghambat terbesar mengapa selama sekian dekade, Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Indonesia belum juga terwujud.

Padahal kenyataannya, dengan tingkat polusi Indonesia yang demikian besar, nuklir adalah jawaban energi terbarukan yang paling aman di Indonesia. Jika nuklir dikontrol dan diaplikasikan secara tepat, manfaatnya bagi masyarakat tentu akan jauh lebih hebat.

Bagaimana awal mula sejarah nuklir di Indonesia?


Indonesia memang tidak begitu populer dibandingkan negara-negara semisal Iran, Korea Utara, Tiongkok, dan lainnya mengenai riset nuklir. Di Indonesia sendiri Nuklir masih menjadi perdebatan, karena memang keberadaannya sangat rentan. Beberapa ahli mendukung pembuatan dan pengembangan reaktor Nuklir di Indonesia, namun tak sedikit pula yang menolak pembangunan reaktor nuklir tersebut, karena dikhawatirkan dampak radiasinya yang sangat berbahaya bagi kelangsungan hidup manusia.

Namun, ternyata masalah nuklir ini sudah sejak zaman presiden Soekarno difikirkan, bahkan saat itu Soekarno membuat sebuah badan atau lembaga guna melakukan riset terkait Nuklir ini. Untuk lebih tahu sejarahnya, mari kita simak secara perlahan-lahan.

Sejarah lahirnya Nuklir di Indonesia ini dimulai sejak uji coba bom hidrogen (termo nuklir) Amerika Serikat di Kepulauan Marshall (Pasifik) pada sekitar tahun 1954, uji coba ini pun kemudian membuat Sukarno khawatir tentang wilayah Indonesia timur yang akan terkena dampak radiasi Nuklir tersebut, karena Soekarno paham betapa berbahayanya dampak radiasi Nuklir ini bagi kehidupan. dari sinilah kemudian Ia lalu mencari ahli radiologi dalam negeri untuk melakukan penyelidikan. Soekarno pun akhirnya mengeluarkan Keppres No 230/1954 tentang pembentukan Panitia Negara untuk Penjelidikan Radio-Aktivitet pada 23 November 1954. Panitia ini dipimpin oleh seorang ahli radiologi dalam negeri, G.A. Siwabessy, yang baru pulang studi di London.

Berdasarkan kutipan dari historia, di ketahui bahwa "Tim lalu bergerak dengan prioritas tempat-tempat yang berdekatan dengan Samudera Pasifik, seperti Manado, Ambon, dan Timor. Hasil penyelidikan tim menyimpulkan, Indonesia aman dari dampak ujicoba bom AS."

Selesai dengan tugas tersebut, tim kemudian menyarankan kepada pihak pemerintah untuk menaruh perhatian lebih besar kepada bidang pernukliran nasional. Upaya yang dilakukan oleh tim tersebut akhirnya menuaikan hasil yang cukup baik. Pemerintah akhirnya menyetujui untuk dibentuknya Dewan Tenaga Atom dan Lembaga Tenaga Atom (LTA).

lagi-lagi Siwabessy lah yang dipercaya menjadi direktur jenderal LTA, karena memang saat itu ahli radiologi khusunya nuklir di Indonesia masih sangat sedikt. setelah LTA ini dibentuk, mereka kemudian membuat blue print tentang pengembangan nuklir nasional. Selain memberi beasiswa kepada anak bangsa ke berbagai negara untuk mempelajari nuklir, LTA juga aktif berkeliling untuk satu tujuan, yaitu mempelajari nuklir. Berbagai kerjasama dengan pihak lain pun juga dijajaki, yang terpenting dengan Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA).  

Kerjasama yang dilakukan itu akhirnya membuat Indonesia memperoleh bantuan dari Amerika Serikat. teaptnya pada sekitar Juni tahun 1960, Indonesia akhirnya secara resmi menandatangani kerjasama bilateral di bidang nuklir dengan AS di bawah program “Atom for Peace”. dari hasil perjanjian ini, selain memberi dukungan dana sebesar 350 ribu US$ untuk pembangunan reaktor nuklir, dan 141 US$ untuk riset pengembangan. AS juga memperkenankan untuk mengirimkan tenaga ahlinya ke Indonesia untuk membantu perkembangan Nuklir nasional. Perjanjian ini pun sempat membuat berbagai pro dan kontra kala itu, namun, meski menuai pro-kontra, Indonesia berhasil membangun reaktor nuklir pertamanya, Triga-Mark II, pada April 1961.

Namun, selang beberapa lama kerjasama itu pun perlahan akhirnya berubah menjadi sebuah bentuk persaingan seiring berubahnya hubungan bilateral Indonesia-AS. Kematian Presiden John F. Kennedy membuat hubungan Indonesia-AS tak lagi mesra. Sukarno makin lantang mengkampanyekan perlawanan terhadap neokolonialisme dan imperialisme yang ditopang negeri-negeri tua seperti AS. hubungan ini pun makin diperparah sejak keberhasilan Tiongkok dalam ujicoba bom atom pertamanya pada 16 Oktober 1964.

Sejak keberhasilan Tiongkok itulah kemudian menginspirasi Soekarno untuk melakukan hal serupa dan Ia yakin bahwa Indonesia pun mampu meuwujudkannya. Menurut Sulfikar Amir dalam “The State and the Reactor: Nuclear Politics in Post-Suharto Indonesia,” dimuat jurnal Indonesia, ketertarikan Sukarno didorong oleh ancaman terhadap keamanan Indonesia setelah AS melancarkan Perang Vietnam dan Inggris menyokong pembentukan Federasi Malaysia. Selain itu, ini merupakan taktik Sukarno untuk memperoleh dukungan dari dua kubu politik dalam negeri yang terus berseteru, Angkatan Darat dan PKI.

Kekaguman Soekarno terhadap Tiongkok yang mampu melakukan uji coba nuklir ini membuat Soekarno secara diam-diam mengirim ahli-ahli nuklir nasional dan petinggi-petinggi militer Indonesia ke Tiongkok untuk mempelajari bagaimana mengembangkan dan membuat bom atom. Hal itu dia lakukan karena adanya perjanjian mengikat antara Indonesia dengan AS, yang tak membolehkan Indonesia berpaling dari AS dalam pengembangan nuklirnya. Amerika tak bisa menghentikan langkahnya kendati kemudian rencana besar itu redup seiring kejatuhan Sukarno pada 1965.

Sejak keredupan itulah perkembangan Nuklir di Indonesia dinilai cukup lambat dan sangat berhati-hati, banyak ketakutan yang timbul untuk mengembangkan Nuklir ini walau hanya untuk pembangkit listrik bukan untuk bom atom. Memang sampai saat ini pun pro dan kontra terkait pembangunan dan pengembangan nuklir di Indonesia masih terjadi. Terlepas dari itu semua, kita semoga kisah tentang perang menggunakan bom atom tidak akan pernah terjadi kembali di dunia ini.

Program Nuklir Indonesia Kedepan

Bagi Indonesia Membuat BOM Nuklir Bukanlah hal yang sulit, Tinggal Menggabungkan, antara BADAN TENAGA ATOM NASIONAL + PT.PINDAD = Pembuat Bom + LAPAN= Pembuat Roket, JADILAH HULU LEDAK NUKLIR BUATAN INDONESIA.

Program Nuklir Indonesia merupakan program Indonesia untuk membangun reaktor nuklir, sehingga dapat memproduksi energi. 

Kegiatan pengembangan dan pengaplikasian teknologi nuklir di Indonesia diawali dari pembentukan Panitia Negara untuk Penyelidikan Radioaktivitet tahun 1954. Panitia Negara tersebut mempunyai tugas melakukan penyelidikan terhadap kemungkinan adanya jatuhan radioaktif dari uji coba senjata nuklir di lautan Pasifik. 

Dengan memperhatikan perkembangan pendayagunaan dan pemanfaatan tenaga atom bagi kesejahteraan masyarakat, maka melalui Peraturan Pemerintah No. 65 tahun 1958, pada tanggal 5 Desember 1958 dibentuklah Dewan Tenaga Atom dan Lembaga Tenaga Atom (LTA), yang kemudian disempurnakan menjadi Badan Tenaga Atom Nasional (BATAN) berdasarkan UU No. 31 tahun 1964 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Tenaga Atom. Selanjutnya setiap tanggal 5 Desember yang merupakan tanggal bersejarah bagi perkembangan teknologi nuklir di Indonesia dan ditetapkan sebagai hari jadi BATAN. 

Pada perkembangan berikutnya, untuk lebih meningkatkan penguasaan di bidang iptek nuklir, pada tahun 1965 diresmikan pengoperasian reaktor atom pertama (Triga Mark II) di Bandung. Kemudian berturut-turut, dibangun pula beberapa fasilitas litbangyasa yang tersebar di berbagai pusat penelitian, antara lain Pusat Penelitian Tenaga Atom Pasar Jumat, Jakarta (1966), Pusat Penelitian Tenaga Atom GAMA, Yogyakarta (1967), dan Reaktor Serba Guna 30 MW (1987) disertai fasilitas penunjangnya, seperti: fabrikasi dan penelitian bahan bakar, uji keselamatan reaktor, pengelolaan limbah radioaktifdanfasilitas nuklir lainnya. 

Sementara itu dengan perubahan paradigma pada tahun 1997 ditetapkan UU No. 10 tentang ketenaganukliran yang diantaranya mengatur pemisahan unsur pelaksana kegiatan pemanfaatan tenaga nuklir(BATAN)dengan unsur pengawas tenaga nuklir (BAPETEN). Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN) didirikan tahun 1998. Penelitian energi atom dimulai di Indonesia. 

Selain untuk memproduksi listrik, teknologi nuklir juga digunakan untuk kegunaan medis, manipulasi genetika dan agrikultur. Rencana untuk program atom dihentikan tahun 1997 karena penemuan gas alam Natuna, tetapi program ini kembali dijalankan sejak tahun 2005. 

Indonesia menyatakan bahwa program akan berkembang dengan pantauan International Atomic Energy Agency (IAEA). Oleh sebab itu, Mohammed ElBaradei diundang untuk mengunjungi negara ini pada Desember 2006. Protes terhadap rencana ini muncul pada Juni 2007 didekat Jawa Tengahdan juga lonjakan pada pertengahan 2007. Pada maret 2008 , melalui menteri Riset dan Teknologi, Indonesia memaparkan rencananya untuk membangun 4 buah PLTN berkekuatan 4800 MWe (4 x 1200 MWe).

Referensi :
1. http://blog.act.id/melihat-lebih-jauh-perkembangan-teknologi-nuklir-indonesia
2.  https://aurellyreresaputra.blogspot.co.id/2015/04/sejarah-perkembangan-nuklir-di-indonesia.html
3. ttp://www.kompasiana.com/aurapapua/indonesia-siap-buat-kejutan-di-bidang-nuklir_550025a3813311dd17fa7271


Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.